PERAN
DAN FUNGSI ADVOKASI DALAM KEPERAWATAN KRITIS
A.
Konsep Advokasi Keperawatan
Istilah advokasi,
menurut Bahasa Belanda disebut advocaat atau advocateur yang berarti pengacara
atau pembela. Oleh karena itu, tidak heran jika advokasi sering diartikan
sebagai kegiatan pembelaan kasus seseorang. Dalam konteks keperawatan, advokasi
merupakan peran profesional perawat untuk melakukan pembelaan dan perlindungan
kepada pasiennya. Perawat dalam menerapkan peran advokasi akan menggunakan
posisi kepercayaan mereka untuk melindungi hak, kesehatan, dan keselamatan
pasien. Mereka bekerja dengan rekan sejawt, penyedia layanan Kesehatan lain,
administrator medis, pembuat kebijakan, dan organisasi keperawatan untuk
memastikan kualitas perawatan terbaik bagi pasien dan keluarganya
Advokasi perawat
berperan atas nama pasien untuk mempromosikan hak, kesetaraan, kebebasan, dan
banyak isu penting lainnya. Mengatasi kebutuhan setiap pasien untuk didengarkan
dan dipahami, advokasi adalah tugas penting dari perawat, dan profesional kesehatan
lainnya
Perawat di semua
setting layanan baik mereka yang bekerja di rumah sakit, klinik rawat jalan,
atau fasilitas lainnya memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasien menerima
perawatan yang berkualitas. Perawat juga berupaya untuk memastikan bahwa
layanan, kebijakan, dan peraturan fokus pada pemenuhan kebutuhan pasien
sekaligus menjaga mereka tetap aman
Advokasi perawat
berfungsi sebagai penghubung antara pasien, dokter mereka, dan fasilitas
kesehatan. Misalnya, mereka mungkin membahas rencana pengobatan dengan pasien
setelah dokter meresepkan obat baru atau membuat diagnosis. Jika pasien tidak
memahami kondisi atau diagnosisnya, peran advokasi perawat dapat bertindak
dengan memberikan penjelasan kepada pasien dan anggota keluarganya
Dalam kata lain,
peran advokasi perawat juga dapat dikatakan sebagai pembela pasien. Jika pasien
tidak setuju dengan rencana pengobatan, misalnya, perawat dapat berkomunikasi
dengan dokter atas nama pasien. Selain itu, perawat dapat memastikan bahwa dokter
merekomendasikan pilihan pengobatan yang paling tepat atau sesuai untuk
kebutuhan pasien. Misalnya, jika seorang dokter menawarkan dua pilihan
pengobatan, perawat advokasi dapat membantu pasien membuat keputusan
berdasarkan apa yang terbaik bagi kesehatan mereka serta kemampuan mereka.
Mereka dapat berdiskusi dengan pasien tentang cara mengakses sumber daya
keuangan atau membantu mereka memahami apa saja yang ditanggung oleh
asuransi/jaminan kesehatan mereka.
B.
Manfaat Advokasi Perawat
Advokasi perawat
dapat memberikan manfaat bagi pasien dan perawat itu sendiri. Berikut beberapa
dampak positif advokasi perawat:
1.
Manfaat
bagi Pasien
Advokasi perawat dapat memberikan suara kepada pasien
dalam situasi dimana mereka mungkin terabaikan atau kurang mendapatkan
perhatian sesuai yang mereka butuhkan. Karena banyak orang tidak akrab dengan
terminologi medis yang digunakan dokter, perawat dapat menguraikan informasi
rumit mengenai diagnosis, pengobatan, atau rencana perawatan pada pasien dan
atau keluarganya
Melalui peran advokasi, perawat juga akan memberikan
penjelasan pasien tentang kondisi mereka, memberi tahu mereka tentang pilihan
pengobatan alternatif atau holistik. Mereka dapat bekerjasama dengan keluarga
pasien atau orang-orang terdekat untuk memastikan seseorang dapat membantu
memenuhi kebutuhan perawatan pasien saat di rumah.
Jika pasien berasal dari latar belakang yang kurang
terlayani atau kurang terwakili, perawat advokasi dapat membantu memastikan
mereka tidak tersesat dalam labirin sistem layanan kesehatan yang mana tidak
dapat semua pasien memahaminya.
2.
Manfaat
bagi Perawat
Dengan mengadvokasi keselamatan dan kesejahteraan
pasien, perawat berkontribusi terhadap lingkungan kerja dengan standar yang
lebih tinggi, peraturan yang lebih baik, dan kebijakan yang berpusat pada
pasien. Ketika lingkungan medis lebih aman, perawat dapat memberikan perawatan
dengan risiko lebih kecil untuk merugikan pasiennya. Advokasi untuk keselamatan
mengarah pada kesejahteraan pasien dan perawat.
Manfaat lain dari advokasi perawat adalah perjuangan
untuk meningkatkan kondisi kerja perawat. Ketika perawat memiliki kondisi kerja
yang lebih baik, mereka dapat menawarkan perawatan yang lebih baik kepada
pasiennya. Jika salah satu perawat memikul beban kerja yang berat dan mulai
mengalami tanda-tanda kelelahan, perawat lain dapat turun tangan dan menawarkan
dukungan. Perawat juga dapat bekerja sama untuk mengurai jam kerja atau beban
kerja yang berlebih atau kurang ideal yang akan menghalangi mereka untuk
memberikan performa perawatan berkualitas. Dengan melakukan advokasi untuk diri
mereka sendiri, perawat dapat melayani pasiennya dengan lebih baik.
Advokasi perawat menunjukkan bahwa staf organisasi
layanan kesehatan peduli terhadap pasiennya. Ketika perawat dan administrator
meluangkan waktu ekstra untuk memenuhi kebutuhan pasien, mereka menunjukkan
bahwa mereka memandang pasien lebih dari sekedar objek. Hal ini juga membantu
retensi pasien, karena pasien ingin mengunjungi penyedia layanan yang
menghargai mereka dengan performa layanan yang mengesankan.
C.
Pertimbangan Etik Dalam Advokasi Keperawatan Pada
Kasus Kritis
Tujuan utama dari
setiap profesional keperawatan adalah untuk membantu dan menjaga kesejahteraan
kliennya. Merupakan tanggung jawab perawat untuk mengadvokasi kesejahteraan
klien. Dalam kondisi masyarakat masa kini, hambatan utama dalam
menyelenggarakan layanan kesehatan yang efektif adalah mengatasi perbedaan
pendapat dalam berbagai perspektif, termasuk perspektif etika. Perspektif etika
yang dimaksud dapat digambarkan misalnya Ketika seorang perawat melakukan suatu
tidakan, orang lain akan memiliki perbedaan perspektif pantas atau tidak
pantas, baik atau tidak baik, etis atau tidak etis.
Tujuan etika dalam
layanan kesehatan adalah untuk mencapai kemajuan lebih dari sekadar
meminimalkan pelanggaran dan kelalaian. Hal ini juga memerlukan fokus pada
prakiraan masalah yang akan terjadi dan menyelidiki apakah situasi saat ini
dapat diperbaiki. Inilah sebabnya mengapa pertimbangan etis merupakan bagian
penting dari advokasi layanan kesehatan
Oleh karena itu,
perawat mungkin merasa tidak yakin apakah dia dapat membantu klien secara wajar
dan sesuai, ataukah sebaliknya. Dalam satu contoh, perawat menemukan bahwa
klien yang sekarat telah meninggalkan banyak barang berharga di lacinya. Dengan
memberikan isyarat bahwa surat wasiat mungkin diharapkan atau membantu klien
membuang barang-barang tersebut, perawat mungkin melanggar kepercayaan klien.
Namun, jika dia tidak melakukan sesuatu untuk membantu dan harta bendanya
hilang atau dicuri, dia mungkin merasa bahwa dia tidak memenuhi tanggung
jawabnya sebagai advokat untuk klien tersebut.
Pertimbangan etis
dalam layanan kesehatan pada dasarnya mensyaratkan bahwa hak kemandirian,
kebebasan, dan martabat individu dihormati dan diakui. Hak-hak tersebut tidak
boleh dilanggar atau diabaikan demi mencapai apa yang dianggap sebagai tujuan
'ideal', yaitu penyembuhan. Hal ini karena pertimbangan etis bukanlah latihan
intelektual yang abstrak. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan tindakan dan
keputusan sehari-hari perawat. Dengan mematuhi standar perilaku profesional,
perawat dapat memastikan bahwa perawatan berkualitas diberikan dan hak-hak
klien dihormati dan dipromosikan.
Hubungan
kepercayaan antara perawat dan pasiennya menjadi aspek penting dalam konteks
ini. Kepercayaan yang diberikan pasien kepada perawatnya sangat beralasan.
Perawat menghabiskan banyak waktu dengan pasiennya, dan memenuhi kewajiban
mereka berdasarkan prinsip etik keperawatan untuk melakukan advokasi bagi
pasiennya dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam hasil akhir pasien.
Advokasi keperawatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dan pada berbagai
tingkatan dalam pelayanan kesehatan, dan perawat perlu memiliki pemahaman yang
jelas tentang peran mereka dalam melakukan advokasi terhadap pasien.
Dalam menjalankan
peran advokasi, perawat harus memperhatikan beberapa pertimbangan prinsip etik,
antara lain:
1.
Autonomy. Hak individu dalam membuat keputusan
terhadap tindakan yang akan dilakukan atau tidak dilakukan setelah mendapatkan
informasi serta memahami informasi tersebut secara jelas. Perawat harus menghormati
Otonomi Pasien:
a.
Perawat
harus menghormati hak pasien untuk membuat keputusan sendiri tentang
perawatannya.
b.
Perawat
harus memberikan informasi yang lengkap dan objektif tentang pilihan pengobatan
yang tersedia, serta membantu pasien menimbang risiko dan manfaat dari setiap
pilihan.
c.
Perawat
tidak boleh memaksakan pendapat atau nilai pribadinya kepada pasien.
d.
Pada
pasien anak, dan pasien dengan penurunan kesadaran yang mana tidak mampu
mengambil keputusan. autonomy tersebut diberikan pada orangtua atau wali atau
keluarga.
e.
Pelaksanaan
Autonomy disertai dengan Informed Consent tertulis.
2.
Confidentiality. Menjaga Kerahasiaan:
a.
Perawat
harus menjaga kerahasiaan informasi pasien, termasuk informasi tentang kondisi
medis, diagnosis, dan perawatannya.
b.
Perawat
hanya boleh membagikan informasi pasien kepada orang lain yang memiliki hak
untuk mengetahuinya, seperti dokter, perawat lain, atau anggota keluarga pasien
3.
Mencegah Konflik Kepentingan:
a. Perawat harus
menghindari situasi yang dapat menimbulkan konflik kepentingan antara
kepentingan pasien dan kepentingan pribadi perawat.
b. Contohnya, perawat
tidak boleh menerima hadiah atau gratifikasi dari perusahaan farmasi atau
perusahaan alat kesehatan.
4.
Justice. Menjaga Keadilan dan Kesetaraan:
a. Perawat harus
memastikan bahwa semua pasien mendapatkan perlakuan yang adil dan setara,
b. Perawat
memperlakukan setiap pasiennya dengan kualitas yang sama tanpa memandang ras,
suku, agama, jenis kelamin, atau status sosial ekonomi.
c. Perawat
menjelaskan apa yang secara sah berhak diterima pasien dan apa yang dapat
mereka klaim.
5.
Beneficence. (Berbuat Baik).
Tindakan
yang dilakukan harus memberikan manfaat bagi pasien dengan memperhatikan
kenyamanan, kemandirian, kesejahteraan pasien dan keluarga, serta sesuai
keyakinan dan kepercayaannya. Aktifitas perawatan Kesehatan pada kasus kritis
termasuk:
a.
Penanganan
nyeri dan gejala aktual secara efektif.
b.
Dukungan
interpersonal yang sensitif.
c.
Pengakuan
pribadi pasien/klien sebagai manusia yang wajib untuk dihormati dan dihargai.
6.
Non-Maleficence. (“Doing no harm”).
Tindakan
yang dilakukan harus tidak bertujuan mencederai atau memperburuk keadaan
kondisi yang ada. Perawat harus menghidarkan/ mencegah/ meminimalkan:
a.
Rasa
sakit fisik yang seharusnya tidak terjadi
b.
Tekanan
psikologis yang tidak perlu/ seharusnya tidak terjadi
c.
Penyampaian
suatu kebenaran yang tidak sensitif/ tanpa empati
d.
Pengobatan/
tindakaln yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau kesediaan pasien
e.
Penghentian
pemberian terapi/ tindakan lebih awal, tanpa persetujuan atau tanpa informasi.
Prinsip etik
tersebut menjadi pedoman penting bagi seorang perawat dalam menerapkan layanan
keperawatan dan memastikan apa yang dilakukannya telah sesuai dengan pedoman
dan kepantasan. Akan tetapi tidak dapat 70 Buku Ajar Keperawatan Kritis
dipungkiri bahwa dalam realisasinya, perawat akan dihadapkan dengan situasi
sulit yang menjadikannya merasa dilemma untuk mengambil keputusan. Kondisi
tersebut sering dikenal dengan istilah dilemma etik. Berikut adalah contoh
dilema etik dalam advokasi keperawatan:
a.
Seorang
pasien menolak untuk menjalani operasi yang direkomendasikan oleh dokter.
Perawat harus menghormati keputusan pasien, meskipun perawat yakin bahwa
operasi tersebut sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa pasien.
b.
Seorang
pasien ingin pulang dari rumah sakit meskipun kondisinya masih belum stabil.
Perawat harus menjelaskan risiko dan manfaat pulang ke rumah kepada pasien, dan
membantu pasien membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri
D.
Peran dan Fungsi Advokasi Perawat pada Kasus Kritis
Advokasi perawatan
pasien adalah konsep yang luas dan mencakup halhal yang perlu dijelaskan dan
dipahami secara cermat oleh setiap orang yang terlibat, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dalam proses perawatan. Hal ini lebih lanjut menjelaskan
peran advokasi perawatan pasien dalam lingkungan layanan kesehatan dan
mengidentifikasi pasien dan sistem pendukung mereka dalam kasus advokasi
perawatan pasien. Secara keseluruhan, penting bagi seseorang untuk memahami
peran advokat sebagai pendukung atau fasilitator, karena sudah menjadi sifat
utama seorang advokat perawatan pasien untuk membantu membuat proses perawataan
dan pengobatan seoptimal mungkin. Peran advokasi perawat pada kasus kritis
sangatlah penting dan memiliki beberapa fungsi utama, diantara sebagai berikut:
1.
Menginformasikan
dan Mendidik Pasien dan Keluarga:
a. Perawat
bertanggung jawab untuk memberikan informasi yang jelas, akurat, dan lengkap
kepada pasien dan keluarga tentang kondisinya, prognosis, dan pilihan
pengobatan yang tersedia.
b. Perawat harus
memastikan bahwa pasien dan keluarga memahami informasi yang diberikan dan
dapat membuat keputusan yang tepat tentang perawatan mereka.
c. Perawat juga harus
mendidik pasien dan keluarga tentang cara mengelola kondisinya di rumah dan
membantu mereka mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan.
2.
Membela
Hak-Hak Pasien:
a.
Perawat
harus memastikan bahwa hak-hak pasien dihormati dan dilindungi, termasuk hak
untuk mendapatkan informasi, hak untuk menolak pengobatan, dan hak untuk
privasi.
b.
Perawat
harus bertindak sebagai mediator antara pasien dan tim medis lainnya untuk
memastikan bahwa kebutuhan dan keinginan pasien didengar dan dipertimbangkan.
c.
Perawat
juga harus melindungi pasien dari tindakan yang merugikan dan memastikan bahwa
mereka mendapatkan perawatan yang aman dan berkualitas.
3.
Menjamin
Keamanan dan Kesejahteraan Pasien:
a.
Perawat
harus memantau kondisi pasien secara cermat dan segera mengambil tindakan jika
terjadi perubahan yang membahayakan.
b.
Perawat
harus memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif
untuk kondisinya.
c.
Perawat
juga harus melindungi pasien dari infeksi dan cedera, serta memastikan bahwa
mereka mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman.
4.
Mendukung
Pengambilan Keputusan Pasien:
a.
Perawat
harus membantu pasien dan keluarga dalam membuat keputusan tentang perawatan
mereka.
b.
Perawat
harus memberikan informasi yang lengkap dan objektif tentang pilihan pengobatan
yang tersedia, serta membantu pasien dan keluarga menimbang risiko dan manfaat
dari setiap pilihan yang ditawarkan.
c.
Perawat
juga harus menghormati keputusan pasien dan keluarga, meskipun perawat tidak
setuju dengan keputusan tersebut.
d.
Berkolaborasi
dengan Profesi Lainnya:
1)
Perawat
harus bekerja sama dengan dokter, ahli gizi, fisioterapis, dan profesional
kesehatan lainnya untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang
komprehensif dan terkoordinasi.
2)
Perawat
harus berbagi informasi dengan tim medis lainnya tentang kondisi pasien,
kemajuannya, dan kebutuhannya.
3)
Perawat
juga harus bekerja sama dengan tim medis lainnya untuk menyelesaikan masalah
dan memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang terbaik.
Berikut adalah
beberapa contoh penerapan peran advokasi perawat pada kasus kritis:
a.
Seorang
pasien kritis di ICU mengalami komplikasi setelah operasi. Perawat harus segera
menginformasikan dokter dan keluarga pasien tentang kondisinya dan tindakan
yang akan diambil.
b.
Seorang
pasien kritis yang tidak sadar diri harus diwakili oleh perawat dalam membuat
keputusan tentang perawatannya. Perawat harus bekerja sama dengan keluarga
pasien untuk memastikan bahwa keputusannya sesuai dengan keinginan pasien.
c.
Seorang
pasien kritis yang mengalami depresi dan kecemasan membutuhkan dukungan
emosional dari perawat. Perawat harus mendengarkan pasien dan membantu mereka
mengatasi rasa takut dan stres.
E.
Kebutuhan Advokasi Klien pada Kasus Kritis
Kebutuhan advokasi
klien pada kasus kritis sangatlah penting karena beberapa alasan:
1.
Klien
tidak mampu membuat keputusan sendiri:
a.
Pada
kasus kritis, klien mungkin mengalami sakit parah, tidak sadar diri, atau di
bawah pengaruh obat-obatan.
b.
Hal
ini dapat membuat mereka tidak mampu membuat keputusan sendiri tentang
perawatan mereka.
c.
Perawat
dapat membantu klien untuk membuat keputusan yang sesuai dengan keinginan
mereka juga dengan melibatkan anggota keluarga atau orang terdekatnya.
2.
Klien
tidak mendapatkan informasi yang lengkap:
a.
Dalam
situasi kritis, tim medis mungkin tidak selalu memiliki waktu untuk menjelaskan
semua pilihan pengobatan kepada klien dan keluarga.
b.
Perawat
dapat membantu klien untuk mendapatkan informasi yang lengkap tentang pilihan
pengobatan dan risikonya.
3.
Klien
tidak mendapatkan perawatan yang terbaik:
a.
Dalam
beberapa kasus, klien mungkin tidak mendapatkan perawatan yang terbaik karena
kesalahan medis atau karena sistem kesehatan yang tidak memadai.
b.
Advokat
dapat membantu klien untuk mendapatkan perawatan yang terbaik dan memastikan
bahwa hak-hak mereka dilindungi
4.
Klien
dapat mengalami stres dan trauma:
a.
Kasus
kritis dapat menyebabkan stres dan trauma bagi klien dan keluarga.
b.
Perawat
dapat membantu klien untuk mengatasi stres dan trauma dan mendapatkan dukungan
yang mereka butuhkan.
Berikut adalah beberapa contoh kebutuhan
advokasi klien pada kasus kritis:
1.
Membantu
klien untuk memahami pilihan pengobatan dan risikonya.
2.
Membantu
klien untuk membuat keputusan yang sesuai dengan keinginan mereka.
3.
Memastikan
bahwa klien mendapatkan informed consent sebelum menjalani prosedur medis.
4.
Melindungi
hak-hak klien, seperti hak untuk privasi dan hak untuk menolak pengobatan.
5.
Membantu
klien untuk mendapatkan akses ke perawatan yang terbaik.
6.
Mendukung
klien dan keluarga dalam mengatasi stres dan trauma. Penting bagi klien dan
keluarga untuk mengetahui bahwa mereka memiliki hak untuk mendapatkan advokasi
pada kasus kritis
F.
Strategi Perawat dalam Melaksanakan Advokasi pada
Kasus Kritis
Berikut adalah
beberapa strategi yang dapat digunakan perawat dalam melaksanakan advokasi:
1.
Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan:
a.
Perawat
perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang hak-hak pasien, etik keperawatan,
dan prinsip-prinsip advokasi.
b.
Perawat
juga perlu memiliki keterampilan komunikasi yang baik untuk dapat berkomunikasi
dengan pasien, keluarga, dan tim medis lainnya secara efektif.
c.
Perawat
dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui pendidikan formal,
pelatihan, dan seminar.
2.
Membangun Hubungan yang Kuat dengan Pasien dan
Keluarga:
a.
Perawat
perlu membangun hubungan yang kuat dengan pasien dan keluarga untuk dapat
memahami kebutuhan dan keinginan mereka dengan baik.
b.
Perawat
dapat membangun hubungan yang kuat dengan pasien dan keluarga dengan cara
berkomunikasi secara terbuka dan hormat, mendengarkan dengan penuh perhatian,
dan menunjukkan empati
3.
Bekerja Sama dengan Tim Medis Lainnya:
a.
Perawat
perlu bekerja sama dengan tim medis lainnya untuk memastikan bahwa pasien
mendapatkan perawatan yang terbaik.
b.
Perawat
dapat bekerja sama dengan tim medis lainnya dengan cara berkomunikasi secara
terbuka dan hormat, berbagi informasi, dan berkolaborasi dalam membuat
keputusan tentang perawatan pasien.
4.
Mendokumentasikan Tindakan Advokasi:
a.
Perawat
perlu mendokumentasikan tindakan advokasi yang mereka lakukan.
b.
Dokumentasi
dapat membantu perawat untuk melacak kemajuan pasien, mengidentifikasi masalah,
dan meningkatkan praktik advokasi mereka.
5.
Menjadi Role Model:
a. Perawat dapat
menjadi role model bagi perawat lain dalam hal advokasi.
b. Perawat dapat
menjadi role model dengan cara menunjukkan komitmen terhadap hak-hak pasien,
mempraktikkan advokasi dengan efektif, dan mendidik perawat lain tentang
advokasi.
Berikut adalah
beberapa contoh strategi advokasi yang dapat digunakan perawat dalam situasi
tertentu:
1.
Jika
pasien menolak pengobatan:
a.
Perawat
dapat menjelaskan manfaat pengobatan dan risiko dan menolak pengobatan kepada
pasien dan keluarga.
b.
Perawat
dapat membantu pasien dan keluarga untuk mengeksplorasi pilihan pengobatan
lain.
c.
Perawat
dapat membantu pasien dan keluarga untuk membuat keputusan yang tepat tentang
perawatan mereka.
2.
Jika
pasien mengalami kesulitan berkomunikasi:
a.
Perawat
dapat menggunakan alat bantu komunikasi, seperti juru bahasa atau papan tulis.
b.
Perawat
dapat memastikan bahwa pasien dan keluarga memahami informasi yang diberikan.
c.
Perawat
dapat membantu pasien dan keluarga untuk mengekspresikan kebutuhan dan
keinginan mereka.
3.
Jika
pasien mengalami diskriminasi atau pelecehan:
a.
Perawat
dapat melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwenang
b.
Perawat
dapat melindungi pasien dari bahaya atau potensi bahaya yang ada.
c.
Perawat
dapat membantu pasien untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
Oleh karena itu,
penting bagi perawat untuk menggunakan strategi advokasi yang tepat dalam
setiap situasi yang berbeda.
G.
Komunikasi Efektif untuk Advokasi
Advokasi merupakan
suatu bentuk komunikasi persuasif yang ditujukan untuk mempengaruhi pemangku
kepentingan dalam mengambil kebijakan atau keputusan. Keterampilan advokasi
merupakan sebuah ilmu dan seni, yang tentunya sangat dipengaruhi oleh kemampuan
berkomunikasi. Oleh karena itu, bagi seorang perawat, peningkatan keterampilan
komunikasi dapat membantu meningkatkan kualitas layanan dan kinerja, khususnya
dalam menerapkan peran advokasi.
Bagian ini
menunjukkan bahwa refleksi kritis terhadap komunikasi, dikombinasikan dengan
berbagai strategi dan pembelajaran dari praktik, akan menginspirasi suara dan
peran yang lebih kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman teori
dan praktik komunikasi sangat penting untuk mulai menjadi advokat yang sukses.
Hal ini memungkinkan diperkenalkannya strategi komunikasi berbasis bukti yang
efektif untuk diterapkan. Komunikasi yang efektif untuk advokasi merupakan
panduan komprehensif untuk memahami pentingnya komunikasi dalam advokasi.
Dengan menjelaskan aspek teoritis dan praktis dari komunikasi dan advokasi, bab
ini menawarkan peluang untuk melakukan refleksi kritis terhadap keterampilan
komunikasi kita sendiri. Karena berbagai bentuk komunikasi terjalin dengan
proses kekuasaan dan pengambilan keputusan, akan tetapi juga mengajarkan kita
bagaimana menyampaikan pesan secara efektif.
Komunikasi yang
efektif sangat penting dan merupakan salah satu kunci utama dalam situasi
keperawatan kritis. Komunikasi yang baik dapat membantu memastikan bahwa pasien
menerima perawatan yang tepat dan optimal, serta membantu mengurangi stres dan
kecemasan bagi pasien, keluarga, dan tim medis lainnya. Berikut adalah beberapa
elemen kunci komunikasi advokasi perawat yang efektif.
1.
Kejelasan:
a.
Perawat
harus menyampaikan informasi dengan cara yang jelas, ringkas, dan mudah
dipahami oleh pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya.
b.
Hindari
penggunaan jargon medis dan istilah teknis yang rumit untuk menghindari
kesalahpahaman dan perbedaan persepsi.
2.
Ketepatan:
a.
Pastikan
informasi yang disampaikan akurat, dan memiliki data pendukung terkini.
b.
Periksa
kembali pemahaman informasi pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya untuk
memastikan tidak ada kesalahpahaman.
3.
Keterbukaan:
a.
Perawat
harus terbuka dan transparan dalam menyampaikan informasi kepada pasien,
keluarga, dan tim kesehatan lainnya.
b.
Berikan
informasi yang lengkap dan jujur, termasuk informasi tentang risiko dan
kemungkinan komplikasi.
4.
Empati:
a.
Perawat
harus menunjukkan empati dan rasa hormat kepada pasien, keluarga, dan tim
kesehatan lainnya.
b.
Dengarkan
dengan penuh perhatian dan perhatikan kebutuhan dan kekhawatiran mereka.
5.
Asertif:
a.
Perawat
harus asertif dalam menyampaikan informasi dan mempertahankan hak-hak pasien.
b.
Jangan
ragu untuk berbicara dan bertindak jika pasien dirugikan atau hak-haknya
dilanggar.
6.
Kolaboratif:
a.
Perawat
harus bekerja sama dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya untuk
mencapai tujuan bersama.
b.
Bangun
hubungan yang baik dengan semua pihak yang terlibat dalam perawatan pasien.
7.
Dokumentasi:
a.
Dokumentasikan
semua komunikasi yang dilakukan dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan
lainnya.
b.
Dokumentasi
yang baik dapat membantu memastikan kelancaran komunikasi dan mencegah
kesalahpahaman.
Berikut adalah
beberapa tips tambahan untuk meningkatkan komunikasi perawat advokasi:
1.
Gunakan
bahasa tubuh yang positif dan ramah.
2.
Jaga
kontak mata dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya
3.
Berikan
waktu yang cukup untuk pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya untuk
bertanya dan memahami informasi yang disampaikan.
4.
Gunakan
alat bantu komunikasi visual, seperti gambar atau diagram, jika diperlukan.
Penerapan
komunikasi efektif dalam situasi keperawatan kritis:
1.
Saat
memberikan informasi tentang kondisi pasien:
a.
Jelaskan
kondisi pasien dengan cara yang mudah dipahami.
b.
Gunakan
bahasa yang sederhana dan hindari jargon medis.
c.
Berikan
informasi tentang prognosis dan pilihan pengobatan.
d.
Berikan
kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya dan memahami informasi
yang disampaikan.
2.
Saat
menyampaikan kabar buruk:
a.
Pilih
tempat yang tenang dan privat untuk menyampaikan kabar buruk.
b.
Sampaikan
kabar buruk dengan cara yang jelas, langsung, dan penuh empati.
c.
Berikan
waktu kepada pasien dan keluarga untuk bereaksi dan memproses informasi.
d.
Tawarkan
dukungan dan pendampingan kepada pasien dan keluarga.
3.
Saat
berkolaborasi dengan tim medis lainnya:
a.
Berkomunikasi
secara terbuka dan jelas dengan tim medis lainnya.
b.
Bagikan
informasi tentang kondisi pasien dan kemajuan atau perkembangan kondisinya.
c.
Diskusikan
pilihan pengobatan dan rencana perawatan bersama.
d.
Bekerja
sama untuk mencapai tujuan perawatan pasien.
DAFTAR
PUSTAKA
Abbasinia M,
Ahmadi F, Kazemnejad A. Patient advocacy in nursing: A concept analysis.
Nursing Ethics. 2020;27(1):141-151. doi:10.1177/0969733019832950
Afidah, E.N. &
Sulisno, M. 2013. Gambaran pelaksanaan peran advokat perawat di rumah sakit
negeri di kabupaten semarang. Jurnal Manajemen Keperawatan, 1(2), 2013. 124-130
Alexis, D., Cooke,
J., Shimumbi, L., Worsley, A. 2022. The role of the nurse advocate in health
and social care. Mediteranian Nursing and Midwifery: 1-7.
DOI:10.5152/MNM.2022.220875
Alsufyani, A.M.,
Aldawsari, A.A., Aljuaid, S.M., & Almalki, K.E. 2020. Quality of nursing
care in Saudi Arabia: Are empathy, advocacy, and caring important attributes
for nurses?. Nurse Media Journal of Nursing, 10(3), 2020, 244- 259. DOI:
10.14710/nmjn.v10i3.32210
Böhler, H.,
Hanegraaff, M., & Schulze, K. 2022. Does climate advocacy matter? The
importance of competing interest groups for national climate policies, Climate
Policy, 22:8, 961- 975, DOI: 10.1080/14693062.2022.2036089
Engward, H.,
Goldspink, S., Abdulmohdi, N., Alexander, M. 2023. Understanding Professional
Advocacy: A Mixed Method Approach to Explore Professional Nurse Advocacy and
Professional Midwifery Advocacy in one NHS Trust. Research Square. DOI: https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-3740297/v1
Guo, C. &
Saxton, G.D. 2020. The quest for attention: Nonprofit advocacy in a social
media age. California. Standford Business Books. HTML
Heck LO, Carrara
BS, Mendes IAC, Arena Ventura CA. Nursing and advocacy in health: An
integrative review. Nursing Ethics. 2022;29(4):1014-1034.
doi:10.1177/09697330211062981 Kagan, J. A. (2024). A venue-based approach to
understanding advocacy by environmental nonprofits. Nonprofit Management and
Leadership, 34(3), 545–566. https://doi.org/10.1002/nml.21583
Kwame, A.,
Petrucka, P.M. Universal healthcare coverage, patients' rights, and
nurse-patient communication: a critical review of the evidence. BMC Nurs 21, 54
(2022). https://doi.org/10.1186/s12912-022-00833-1 Scott SM,
Scott PA. Nursing,
advocacy and public policy. Nursing Ethics. 2021;28(5):723-733.
doi:10.1177/0969733020961823
Tilley E,
Strnadová I, Danker J, Walmsley J, Loblinzk J. The impact of self-advocacy
organizations on the subjective well-being of people with intellectual
disabilities: A systematic review of the literature. J Appl Res Intellect
Disabil. 2020; 33: 1151–1165. https://doi.org/10.1111/jar.12752
Tíscar-González V,
Gea-Sánchez M, Blanco-Blanco J, Moreno-Casbas MT, Peter E. The advocacy role of
nurses in cardiopulmonary resuscitation. Nursing Ethics. 2020;27(2):333-347.
doi:10.1177/0969733019843634
Ventura CAA,
Austin W, Carrara BS, de Brito ES. Nursing care in mental health: Human rights
and ethical issues. Nursing Ethics. 2021;28(4):463-480.
doi:10.1177/0969733020952102
World Health
Organization. 2021. Guidance on community mental health services: promoting
person-centred and rights-based approaches. who.int.